Tentang rasa Percaya dan Ikhlas

Hidup ini memang berputar bukan? orang yang di atas gak mungkin selamanya akan diatas, orang yang dibawah pun gak selamanya ada di bawah. Tapi , takaran atas , bawah itu tidak semata-mata tentang kaya ataupun miskin, bukan ukuran uang. Setiap kesulitan pasti akan datang sesudahnya kemudahan . Hal ini di tegaskan dalam ayat :

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, yang artinya “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5). Bahkan ayat ini pun diulang di ayat selanjutnya.

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6).
Jadi setia ujian/kesulitan yang terjadi di hidup kita, ya pasti Allah bakal datengin juga kemudahan , maka berprasangka positif terus saja sama Allah.

Jika di tinjau ulang lagi, jalan yang aku telusuri ini memang penuh mukjizat dari Allah. Lulus SMA, dulu bingung mau kemana, dulu pengen banget masuk sekolah tinggi tertentu tapi ternyata gak dikehendaki disana karena tahap pertama aja gagal wkwk. Eh setelah itu kok ternyata SNMPTN undangan nya tembus, Jurusan yang sama tapi di perguruan tinggi lain. Kalau dilihat lagi, sebenarnya nilai aku mah kecil jika dibandingkan teman-temanku yang lain di jurusan ini juga. Aku sadar betul, ini aku beruntung karena kebaikan Allah. Setelah masuk, walau nilai nya kecil, ternyata bisa melalui dan mengikuti semua mata kuliah dan lika-liku nya seperti teman-teman lain. Lagi-lagi Allah baik banget ke hamba-Nya . Begitu udah masuk ke PT ini , rasa ingin ke sekolah tertinggi tertetu yang dulu ya udah ilang karena pandangan nya jadi lebih luas lagi mengenai karir ku kedepannya mau gimana, lebih fleksibel dan bisa kemanapun setelah lulus yah sepertinya begitulah yang lebih ku inginkan(mungkin seperti pembelaan tapi emang bener gitu sih yang di rasain). Allah emang lebih tau yang terbaik untuk kita ya :).

Ketika lulus, mulai lah nyari kerja gitu kan ya. Awalnya mah udah aja , semua yang nyambung di dafrarin dan ikutin tesnya tanpa pikir panjang. Tapi semakin tes dan semakin dalam , makin ragu kalau sepertinya salah. Pekerjaan ini masih banyak sekali yang bisa menerima, tapi kok hatiku semakin ragu . Akhirnya memilih tidak melanjutkan ketika tahap akhir. Aku percaya sih, Allah pasti menyiapkan yang lebih baik di depan. Setelah itu, sepertinya cukup lama sih tidak ada panggilan / kabar tentang pekerjaan. Tapi alhamdulillah gak pernah berfikir menyesal karena telah meninggalkan. Setelah sekian lama dapatlah pekerjaan yang sekarang walau prosesnya panjang banget karena awalnya freelance dulu di divisi yang bukan divisi tujuan selama 2 bulan. Setelah masuk di divisi tujuan, busyet dah ternyata ini kok beda dari yang au pelajari di kuliah. Bener-bener harus belajar dari awal hal-hal yang sama sekali gak ngerti sebelumnya. Mana bagiku seperti sulit sekali buat ngerti, aku butuh waktu lama banget buat ngerti sesuatu disini. Tapi sampai sekarang Alhamdulillah walau masih tetap lama nangkep nya, masih bisa ngikutin. Semua hal yang udah terjadi ini bener-bener bikin aku sadar, segala sesuatu yang bisa terlalui itu bukan karena aku yang hebat, yaiyalah mau hebat apanya wkwk tapi karena Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang memberikan kekuatan dan kemudahan untuk setiap urusan ku.

Setiap nikmat inilah yang bisa jadi acuan kita untuk selalu bersyukur pun ketika kesulitan itu datang. Jika dibandingkan lebih jauh, kenikmatan Allah jauh lebih besar dibanding ujian yang diberikan. Jadi bagaimana mungkin kita dengan gak tau malu mau ngeluh terus dan bilang Allah gak adil ketika dikasih musibah?Padahal ternyata rasa lapag dada dan tetap berprasangka positif itu jauh lebih menyenangkan hati ketimbang terus-terusan bertanya “kenapa harus aku yang mengalami hal ini?”. Pun ketika kita sudah merencanakan sesuatu dalam waktu yang lama, ternyata ketika ingin kita lakukan rencana tersebut Allah belum mengehendaki dan hal yang sudah dikumpulkan sekian lama itu hilang, jadi kita harus memulai ulang. Rasa sedih pasti ada sih, tapi ternyata rasa percaya pada Allah dan tetap tersenyum dan tetap tegar tanpa harus nangis terus dan nanya mulu “kenapa harus aku?”, itu jauh lebih enak, ringan dan bahagia. Telusuri sisi positifnya maka kamu bisa dapetin rasa tenang itu :).

Ikhlas itu bukan tentang ucapan “Iya, aku ikhlas kok” . Ikhlas itu tentang menerima dengan lapang dan tak mengungkit dengan mengeluh apalagi menyalahkan orang lain atas kejadian tersebut. Ambil sisi positif dan kemudian bangkit, jadilah winner pool. Memang sih tak semudah berkata ketika kita menjalaninya.  “Belum rezeki aku, ini rezeki orang lain, percaya pasti Allah punya rencana lain yang lebih indah “. 🙂 Tapi ternyata tetap tersenyum dalam keadaan apapun itu indah banget. Bukan berarti gak boleh nangis sih, hanya jangan berlarut dalam kesedihan. SEjatinya rasa sedih pasti akan ada, tinggal bagaimana kita mengambil sikap atas rasa tersebut bukan? 🙂

Iklan

Tetap Waspada Penipuan Walau Menggunakan Pihak Ketiga, Periksa Nomer Transaksi wajib hukumnya!

Seperti yang kita tau (tau semua gak ya), ya sekarang-sekarang ini itu marak banget kan ya kasus penipuan, apalagi yang hubungannya sama jual-beli secara online, saya yakin banget deh pasti sudah banyak banget cerita orang yang kena tipu karena jual-beli online ini dengan beragam modus yang di gunakan pelaku. Sebenarnya ini terjadi lebih ke si yang tertipu ini terlalu berpikiran positif/ bisa juga terlalu baik atau bisa juga karena ……… ,
Baca lebih lanjut

Kekuatan Syukur

(Sebelum mulai, mau bersihin tempat dulu ini blog udah banyak sarangnya gak pernah dibuka hampir sebulan :D)

 

Temen-temen pernah gak sih mengalami sesuatu hal yang bikin ga tenang dan khawatir, kaya misalnya mau presentasi atau masalah kerjaan yang belum juga dapet solusinya, atau mungkin mau masalah skripsit yang tak kunjung jelas mau dibawa kemana, dll, dsb , dst. Kadang rasa syukur itu muncul hanya ketika dapet suatu nikmat. Padahal sebenernya ujian itu juga salah satu nikmat Allah yang bahkan hikmahnya bisa berimbas luarbiasa ke dalam hidup kita. Tapi seringsekali lupa untuk bersyukur juga , yang ada malah ngeluh mulu gitu , iya gak sih ? apa aku doang ? heheh . Sampe akhirnya aku nemu buku yang judulnya “Indonesia Bersyukur” , di dalam buku ini terdapat eberapa penulis yaitu : Saleha Juliandi, Akhyari Hananto, Berry Juliandi, Khoirul Anwar, Ustad Yusuf Mansur.

Jadi ceritanya waktu itu malem-malem aku galau banget karena besoknya mau ada meeting penting yang bikin aku ragu dan pesimis sama diriku sendiri , aku bahkan merasa kaya gak sanggup gitu untuk menghadapi. Aku sampe nangis dan berkali-kali seolah bilang ingin nge skip hari “esok”, karena aku sangking takutnya. Aku gak bisa tidur , selalu kebayang “gimana besok ya, gimana ya, ” pokoknya bertanya-tanya sambil nangis. Lalu aku berdiri , berpikir untuk menenangkan pikiran lagi (ini posisinya udah shalat dan baca quran tapi masih belum bisa tenang). Aku mencari buku yang kira-kira bisa membantu, ketemulah buku “Indonesia Bersyukur ” ini , buku yang aku bahkan lupa kapan dan darimana dapatnya. Aku mulai membuka dan mulai membaca . Bab awal ditulis oleh Ustadz Yusuf Mansur dengan judul “The Winner Pol”. Tulisan ini berisi tentang cerita nabi Musa yang sedang dikejar oleh Balatentara Fir’aun sedangkan di hadapan beliau dan para pengikut terbentang lautan. Itu sebuah cobaan bukan?. Kalo dipikir-pikir tanpa memperhitungkan kebesaran dan kekuasaan serta kemampuan Allah, seolah tidak mungkin mereka  akan selamat bukan? Begitu pun juga dengan kita, kita sering banget memvonis diri kita gak mungkin berhasil, gak mungkin ada jalan keluar, gak mungkin bisa , gak mungkin sembuh, gak mungkin ini lah , itulah. Sumpah kata-kata itu nonjok aku banget, karena saat aku baca tulisan itum, aku bener-bener sedang memvonis diriku seperti itu, aku memvonis kalo aku gak mungkin mampu menghadapi hari esok tersebut.Sepertinya kita terlalu fokus melihat kesulitannya, sehingga kita sesah napas kalo terus-terusan liat sulitnya, karena semakin dioprek kesulitan tersebut , pasti akan merembet ke kesulitan-kesulitan yang lain dan hal tersebut lah yang akan membuat kita makin memvonis diri kita gak mampu melewatinya.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Bercermin lagi dengan kasus nabi Musa, Nabi Musa dengan keadaan tersebut beliau memuji Allah, berterimakasih kepada Allah karena sejauh ini sudah menyelamatkan beliau dan pengikutnya. Jika memang langkah harus terhenti, maka itulah keadaan yang harus disyukuri, diberikan waktu untuk memuji-Nya, bertasbih, menyembah Allah. Beliau berdoa dengan doa :

Allaahumma lakal hamdu. “Ya Allah, segala puji bagi Mu.”

Ini adalah kalimat pembuka , yang membuka jalan bagi the winner. Begitu nabi Musa membaca doa tersebut, lautan yang begit terbelah, tampak pegunungan, perbukitan, yang berkelok-kelok, indah , namun kering penuh keajaiban dan pesona. Masya Allah , maha besar Allah, Allah menunjukkan kuasa Nya, memberikan jalanan bagi nabi Musa dan pengikutnya. Intinya Ketika mendapatkan suatu cobaan maka hal yang pertama yang harus dilakukan sebagai the winner adalah jangan terlalu fokus pada kesulitannya tapi, bersyukurlah terlebih dahulu liat sisi positif yang selama ini sudah di dapatkan karena dibalik cobaan itu pasti ada hal luarbiasa dahsyat yang disiapkan Allah. Seperti studi kasus pada tulisan ustadz Yusuf berikut ini :

Seseorang yang sudah siap menikahkan anaknya, gedunga , makanan dari katering ternama, ratusan undangan sudah siap di majelis akad nikah plus ribuan undangan yang akan segera datang memberikan selamat karena anaknya dipersunting lelaki pujaannya. Anaknya sudah menunggu dinkamar rias, sudah lengkap dengan pakaian adat untuk akad. Tapi , datanglah kabar “pengantin lelaki batal hadir”. Langsung pingsan lah calon pengantin wanita begitu pula ayah dan ibunya. Ternyata calon pengantin pria tidak bisa hadir karena ditangkap polisi, wah rupanya ada kasus dari si calon pria yang tidak diketahui keluarga si wanita. Jika aura the loser yang menyelimuti pasti akan panik , kalang kabut, ngamuk-ngamuk saling menyalahkan, menghancurkan segala yang sudah siap bahkan mungkin bisa gila. Tapi jika kita lihat sisi positifnya dengan aura the winner, Allah berbaik hati menunjukkan hal tersebut sebelum mereka  menikah, coba kalau sudah menikah, bisa saja si wanita ikut terserat kedalam kasus calon pengantin pria , dsb. Tapi pasti akan jarang sekali sih yang akan menyikapi hal ini dengan the winner pada seluruh orang. Tuan rumah the winner, calon pengantin the winner, panitia the winner, ayah ibu the winner, tamu the winner.

Jarang tuh ada seorang ayah yang bisa mengambil alih musibah hingga menjadi sesuatu yang menyenangkan. Jarang pengantin perempuan, dengan riasan pengantin, dan baju pengantinnya mengucapkan terimakasih. “Makasih ya.. udah datang. Gak apa-apa Allah tahu yang terbaik. Daripada nanti saya keburu hamil, keburu tahu siapa suami sebenernya, ya mending sekarang. Oke kita happy-happy saling silaturahmi mengucap syukur”, Jarang sekali sih pasti. (aku juga gatau bisa apa gak, ah gabisa bayangin). Tamu-tamu pun kebanyakan ikut mengalirkan energi negatif, saling berbisik saling kasian kepada tuan rumah jarang tamu yang kemuadian membenarkan aura the winner. “Iya juga, udah pada siap kok, mending senang-senang aja”. Jika ini terjadi, keajaiban mungkin akan terjadi.

Dari balik deretan tamu, ternyata ada seorang pemuda lengkap dengan ayah dan ibunya. Pemuda ini dulu pernah jadi kekasih calon oengantin wanita ketika cinta monyet tapi waktu memisahkan mereka atas izin Allah. Pemuda ini belum menikah. Pemuda ini tersenyum melihat calon pengantin keluar, tambah tersenyum saat tahu bahwa calon pengantin pria batal hadir. Ia mendekati calon pengantin perempuan, dan bertanya santun, apakah ia masih mengingat dirinya?

Subhanallah. Allah engatur pertemuan dan kejadian hari itu, bukan pertemuan antara calon pengantin perempuan dengan calon pengantin pria yang batal hadir. Tapi justru antara calon pengantin perempuan dengan pemuda. “Tunggu apa lagi? semua sudah siap, penghulu belum pulang. Orang-orang tua dari lelaki dan perempuan pun ada”. “Tinggal maju duduk di pelaminan saja”. Semua orang juga menyadari kecocokan ini dan akhirnya pernikahan tetap dilangsungkan. Subhanallah.

Membaca studi kasus di atas, aku makin tertonjok dan mendapat ketenangan yang luarbiasa, aku menangis tapi hatiku lebih tentram terlebih ketika melanjutkan bacaan yang dibaca oleh nabi Musa.

Allaahumma lakal hamdu

“Ya Allah, segala puji bagi Mu”

Memilih bersyukur, bukan mengeluh.

Wa-ilaikal Musytakaa

“Kepada Engkau Ya Allah kami mengadu”

Wa Antal Musta’aan

“Dan Engkaulah Yang Maha Penolong”

La hawla walaa quwwata illaa billaah

“Tidak ada kekuatan kecuali Kekuatan-Mu”.

Saat itulah kemudian Allah menurunkan perintah-Nya. Agar Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke batu yang ada dihadapan Nabi. Dan terbelahlah kemudian lautan dan menjadi jalan keluar bagi Nabi Musa.

Baca berulang-ulang doa tersebut hingga Allah menurunkan hikmah-Nya. Saat aku melakukannya, aku mendapatkan ketenangan dan kepercayaan diri, sehingga bisa tidur nyenyak dan fresh saat bangun keesokan harinya. Dan Alhamdulillah hari dimana yang membuat  aku  awalnya ingin menghilang saja, berlalu dengan lancar dan baik. Masya Allah, Allah menunjukkan kuasa- Nya. Dan sampai sekarang pun, doa tersebut menjadi obat manjur :). Inti dari semua ini adalah BERSYUKUR apapun yang terjadi kepada kita. :D. Yuk belajar bersyukur lagi bareng-bareng , sudah bersyukurkah hari ini ?

 

Ketika Hati Berbicara

Kepada hati, bagaimana aku bisa menahanmu? bagaimana aku bisa menahan kamu dari rasa rindu yang selalu muncul disela kesepianku.

Kepada hati, bagaimana aku bisa menjagamu? menjaga agar kamu tetap kuat mengahadapi gejolak akibat pesona warna yang ia pancarkan terus menerus tanpa ampun?

Kepada hati, bagaimana aku bisa membutakanmu dari segala cerita tentang dia? dia yang selalu saja menjadi raja di singgasanamu? bagaimana aku bisa menurunkan rasa keingintahuanmu terhadap segala aktivitas tentang dia sedang dia selalu saja bernyanyi-nyanyi di depanmu?.

Kepada hati, bagaimana aku bisa membohongimu? bagaimana aku bisa bilang dan memaksa kamu untuk hilang sejenak dari segala hal tentang dia? sedangkan kamu telat lekat erat bersama nya

Ahh aku tak kuasa, kenapa egomu selalu menang daripada aku? kenapa kau selalu memaksaku untuk selalu mengkonfirmasi tentang kesehariannya?

Ya allah aku tak sanggup dengan rasa ini ya Allah, tolong angkat mereka bersamamu, aku takut , aku takut tak bisa menjaganya sekarang. Aku belum siap menjaganya sekarang, biarlah hanya Engkau yang tahu. Ku pasrahkan semua rasa itu pada-Mu, biarlah Engkau yang menyampaikan kepada dia.

Kepada hati, aku tau tak akan ada yang bisa menyalahkanmu, kamu tak pernah salah, kamu selalu berkata benar , berkata sesuai dengan apa yang sedang dirasakan. Aku lah, aku yang harus bisa menahan dan menguatkanmu dari semua rasa yang mungkin menyiksa itu, maffkan aku, maafkan aku yang sudah memberikan rasa yang belum siap untuk di urus. Jagalah rasa itu disisimu, biarkan ia bernari karena aku tau, takkan bisa untuk menghilangkan walau badai harus menerpa sekarang juga, mungkin dia akan tetap membersamaimu .

Hati yang tak pernah bisa berdusta, mungkin dengan merawatnya semaksimal mungkin maka keinginan itu akan berhasil (?)

bunga-hati

Menyerah pada Jarak

Aku pernah ragu dengan jarak, tapi aku tepis dan tetap kokoh berjuang. Tapi ketika kamu mengibarkan bendera putih tanda menyerah, lalu aku bisa apa? . Karena memaksakan bukan hal baik, bahkan berjuang sendiri pun menyakitkan.

Ah akhirnya jarak memang membuat semua ini jadi budak dan hilang. Kamu menyatakan untuk menyerah , maka aku ikut dan akhirnya kita sama-sama menyerah.

Menyerah pada jarak yang mungkin memang sulit untuk di tempuh. Entah apa tepat nya alasan dari ke menyerahan ini, yang jelas kita memutuskan untuk tak saling memperjuangkan lagi. Karena aku gak mungkin berjuang sendiri padahal kamu sudah ingin lepas. Selamat tinggal impian dan kenangan indah.

 

Cerita masa lalu penuh pilu. Apa aku menyesal ? tidak, menyerah saat itu memang jalan terbaik, karena aku belum saat nya bertemu dengan “kamu” ku yang sebenarnya. Semoga tak akan menyerah pada jarak lagi jika suatu saat “kamu” datang. Semoga “kamu” ku temui dan menemukanku di saat dan kondisi yang tepat . Janji Allah adalah pasti dan aku percaya itu.

Ketika Hariku Seperti tak Memihakku

Pernah gak sih temen-temen ngerasa ada suatu hari yang kayaknya teh “apes” banget ceunah. Apes yang di maksud disini lebih ke apapun yang kita inginkan seperti tidak berjalan sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan, dari awal hingga akhir. Mungkin di setik itu juga rasa lelah, rasa capek, rasa kecewa , kesel bertabrakan saling mengisi relung jiwa dengan kasar. Tapi setelah kita bisa mendinginkan lagi isi kepala kita, ternyata banyak hal yang justru menyelamatkan dan mengajarkan kita berbagai hal.

Seperti ceritaku hari itu, hari ketika aku ingin sekali menonton sebuah acara televisi secara langsung. Aku memang tidak punya tiket, karena sebelumnya ada temanku yang sudah berjanji akan memberikan tiket , jadi ya aku tidak pesan tiket di hari sebelumnya. Tapi ternyata mendekati hari H, tiba-tiba dia bilang kalau dia tampil dan gak bisa dapet tiket, oh apa-apaan ini tau-tau bilang gak bisa. Tapi dia janji mau dapetin tiket lewat promosi sponsor yang hanya bisa di didapatkan jam 4-5 sore di depan gedung. Ketika hari H tiba, jam 5 sore tau-tau dia bilang kalo tiket nya abis karena dia gladi. Jujur nyesek banget sih, seperti gak niat atau emang beneran terjadi begitu. Jelas aku kesel bukan main, tapi aku tetap nekat datang walau datang ku sia-sia karena aku tetap tidak bisa nonton ehhe.

Cerita diatas mengajarkan ku suatu hal, sekali lagi berharap kepada manusia memang menyakitkan bahkan hanya tentang tiket begini saja menyakitkan apalagi dengan hal lain? (lah kok baper :’)). Kita emang makhluk sosial yang gak bisa hidup tanpa orang lain, tapi kita juga gak boleh bermanja-manja dengan mengandalkan, terlalu bergantung dan percaya kepada orang lain. Selama kita bisa berusaha meraihnya mah insha Allah ditolong Allah kalo kita sungguh-sungguh kan :). Walau kedatangan ku sia-sia tapi aku gak merasa kesal atau apa ketika pulang, karena aku sadar sekali mutlak akan ilmu yang aku dapat ini , jadi merenung sendiri yaudah gak bisa kesel karena yang salah diri sendiri juga, bersyukur karena di kasih Allah nikmat untuk berpikir dan menjernihkan pikiran.

Tapi cerita hari itu ternyata ada lagi, aku bersyukur sih tidak mengalami hari itu sendirian karena ada temen kerja yang menemani. Sesampainya di tempat, kami kelaparan ahirnya kami mencari rekomendasi tempat makan di situ lewat internet. Setelah menemukan hal yang diinginkan, kami langsung menuju ke TKP dan jujur sulit sekali menemukannya karena kami sudah muter-muter hampir 30 menit tapi tak kunjung lihat batang hidung nya, akhirnya kamu tanya ke Satpam dan ternyata tempat tersebut memang sudah tidak ada disitu lagi. Wah sabar-sabar, kemudian kami mencari lagi di internet dan yang terjadi adalah kejadian yang sama dua kali…. Ini agak aneh sih, sepertinya kita memang kekurangan cairan jadi gakbisa berpikir dengan jernih wkwk.

Seperti lengkap sudah ke ‘apes’an hari itu. Gak jadi nonton, abis itu laper eh malah cuma muter-muter doang sampe sejam lebih dan gak ada hasilnya , malah tambah laper. Kayaknya hari itu memang seperti tidak memihakku. Tapi setelah ku pikir-pikir, hal ini memberkan ku pelajaran untuk lebih sabar lagi dan legowo dalam menerima segala sesuatu. Muter-muter yang lama itu juga cukup bisa menghibur karena seanjang jalan melihat dan menghirup fresh nya udara . Berkat ini, juga jadi lebih irit karena akhirnya makannya cuma abis 15rb (malah beli kebab dan di dekat kosan pula) , makan biasa (ngerem hedonisme). Mungkin ini sebabnya sehingga pulang kerumah aku masih dalam keadaan tersenyum. Bersyukur memang jalan terbaik dalam menyikapi segala hal sih, gak perlu terlalu mikir apes atau gak di dukung oleh hari. Karena sebenernya apapun yang terjadi pada kita itu selalu ada nilai luarbiasa positif yang terkandung baik tersirat maupun tersurat.  Mari bersyukur untuk hari ini :), Alhamdulillah.

unnamed-4