Peka yuk

Pernah gak sih temen-temen kelupaan sesuatu atau ketinggalan sesuatu barang apapun itu sehingga menyebabkan temen-temen harus bolak-balik gitu? Jujur aku sering banget sih, hal ini terjadi ketika aku tergesa-gesa pergi dari kamar jadi seperti tak memikirkan hal-hal lain selain segera berangkat dan keluar dari kamar. Tapi setelah di kaji ulang, sebenarnya dari sekian banyak kejadian lupa ini, saya tuh udah kaya dikasih peringatan atau pengingat gitu, karena kepekaan ku kurang, jadi lah si pengingat ini ya tidak menjalankan tugasnya dengan baik.

Baru-baru ini aku mengalami hal itu, tepatnya kemarin sih. Jadi aku berangkat kantor, karena rada terburu-buru jadi aku keluar-keluar aja dengan segera dalam ingatanku semua barang sudah ku bawa. Setelah kunci minum dan hendak memakai sepatu, tiba-tiba aku inget kalau aku belum matiin lampu-lampu , lah ini listrik bayar sendiri atuh sayang banget kan kalo dibiarin aja, bisa boros akunya. Karena masih kondisi di depan kosan, yasudah aku masuk kembali kemudian mematikannya. Saat di dalam , aku tidak mengingat-ingat lagi apa kira-kira barang yang ketinggalan lagi. Fokusku saat itu hanya untuk mematikan lampu-lampu kemudian langsung pergi.

Aku menempuh perjalanan sekita 15 menit dengan mengendarai motor yang berkecepatan 40 km/ jam ke kantor. Setelah sampai kantor, kemuadian aku naek ke lantai 7 dan meletakkan tas di meja ku. Setelah aku membuka tas karena ini mengecek sesuatu di hape, aku kaget karena hape aku tidak ada tas. Jujur aku khawatir apakah hape ku jatuh di jalan atau emang bener-bener ketinggalan. Akhirnya dengan sangat berat hati aku memutuskan untuk kebali ke kosan dan ke kantor lagi. Perjalanan ini mencapai 25-30 menit , dan ini bener-bener merugikan. Harusnya 30 menit ini bisa dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan eh ini malah harus bolak balik naek motor. Kan jadi rugi banget ya, rugi uang, rugi waktu, rugi tenaga ditambah lagi kalo sudah siang jalanan makin ramai sekali .

Jadi sebenernya kita itu udah dikasih pengingat/tanda kalo ada sesuatu yang kita khilaf/ kurang-kurang, tapi kita malah gak peka dan cenderung fokus dengan hal itu aja tanpa mikirin hal-hal lain yang mungkin ketinggalan. Jadi menurutku penting banget tuh pas kita inget ada sesuatu yang ketinggalan, cobalah jangan terlalu fokus pada hal itu aja. Tapi coba lebih terbuka dan cek lagi serta inget-inget apa hal yang mungkin ketinggalan. Ini merukan bentuk tahap solusi tahap 2. Penting banget juga adalah ya coba untuk meminimialisir kejadian-kejadian yang ttidak diinginkan dengan jangan keluar tergesa-gesa dan mengingat-ngingat serta ngecek barang apa yang mau dibawa.

Iklan

Menilai Sebelum Mencoba itu Bohong

(Sebenarnya aku gak tau sih ini judulnya nyambung apa gak, yaudahlah ya aku cuma mau cerita)

Tanpa kita sadari dan rencanakan, ternyata setiap perbuatan kebaikan yang kita lakukan akan berimbas ke kebaikan-kebaikan yang lain, terus kok aku baru menyadari gitu kemana bae lah dari lahir teh. Waktu itu aku ikut Tahsin, karena emang aku sadar banget dulu belajar ngaji nya ya gimana ya pas di desa kaya asal yang penting bunyi nya gitu tapi kaya belum pas gitu makhrajnya. Alhamdulillah akhirnya niat untuk memperbaiki bacaan mulai terlaksana .

Baca lebih lanjut

Butuh alasan untuk berbuat baik??

Berbuat baik, kemudian diperlakukan dengan baik juga, sepertinya setiap orang ingin seperti itu. Dulu nih aku berpikir, kalo kita berbuat baik kepada orang lain maka orang lain itu akan memperlakukan kita seperti aku yang kita lakukan padanya. Tapi nyatanya? enggak gitu juga loh teman-teman, kenapa? karena kita gak bisa memaksakan orang lain untuk menganggap/ menilai kita sesuai dengan apa yang kita mau. Jujur aku pernah kecewa dengan hal seperti, akibat pandangan aku yang ternyata salah ini. Baca lebih lanjut

Tentang rasa Percaya dan Ikhlas

Hidup ini memang berputar bukan? orang yang di atas gak mungkin selamanya akan diatas, orang yang dibawah pun gak selamanya ada di bawah. Tapi , takaran atas , bawah itu tidak semata-mata tentang kaya ataupun miskin, bukan ukuran uang. Setiap kesulitan pasti akan datang sesudahnya kemudahan . Hal ini di tegaskan dalam ayat :

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, yang artinya “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5). Bahkan ayat ini pun diulang di ayat selanjutnya.

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6).
Jadi setia ujian/kesulitan yang terjadi di hidup kita, ya pasti Allah bakal datengin juga kemudahan , maka berprasangka positif terus saja sama Allah. Baca lebih lanjut

Tetap Waspada Penipuan Walau Menggunakan Pihak Ketiga, Periksa Nomer Transaksi wajib hukumnya!

Seperti yang kita tau (tau semua gak ya), ya sekarang-sekarang ini itu marak banget kan ya kasus penipuan, apalagi yang hubungannya sama jual-beli secara online, saya yakin banget deh pasti sudah banyak banget cerita orang yang kena tipu karena jual-beli online ini dengan beragam modus yang di gunakan pelaku. Sebenarnya ini terjadi lebih ke si yang tertipu ini terlalu berpikiran positif/ bisa juga terlalu baik atau bisa juga karena ……… ,
Baca lebih lanjut

Kekuatan Syukur

(Sebelum mulai, mau bersihin tempat dulu ini blog udah banyak sarangnya gak pernah dibuka hampir sebulan :D)

 

Temen-temen pernah gak sih mengalami sesuatu hal yang bikin ga tenang dan khawatir, kaya misalnya mau presentasi atau masalah kerjaan yang belum juga dapet solusinya, atau mungkin mau masalah skripsit yang tak kunjung jelas mau dibawa kemana, dll, dsb , dst. Kadang rasa syukur itu muncul hanya ketika dapet suatu nikmat. Padahal sebenernya ujian itu juga salah satu nikmat Allah yang bahkan hikmahnya bisa berimbas luarbiasa ke dalam hidup kita. Tapi seringsekali lupa untuk bersyukur juga , yang ada malah ngeluh mulu gitu , iya gak sih ? apa aku doang ? heheh . Sampe akhirnya aku nemu buku yang judulnya “Indonesia Bersyukur” , di dalam buku ini terdapat eberapa penulis yaitu : Saleha Juliandi, Akhyari Hananto, Berry Juliandi, Khoirul Anwar, Ustad Yusuf Mansur.

Jadi ceritanya waktu itu malem-malem aku galau banget karena besoknya mau ada meeting penting yang bikin aku ragu dan pesimis sama diriku sendiri , aku bahkan merasa kaya gak sanggup gitu untuk menghadapi. Aku sampe nangis dan berkali-kali seolah bilang ingin nge skip hari “esok”, karena aku sangking takutnya. Aku gak bisa tidur , selalu kebayang “gimana besok ya, gimana ya, ” pokoknya bertanya-tanya sambil nangis. Lalu aku berdiri , berpikir untuk menenangkan pikiran lagi (ini posisinya udah shalat dan baca quran tapi masih belum bisa tenang). Aku mencari buku yang kira-kira bisa membantu, ketemulah buku “Indonesia Bersyukur ” ini , buku yang aku bahkan lupa kapan dan darimana dapatnya. Aku mulai membuka dan mulai membaca . Bab awal ditulis oleh Ustadz Yusuf Mansur dengan judul “The Winner Pol”. Tulisan ini berisi tentang cerita nabi Musa yang sedang dikejar oleh Balatentara Fir’aun sedangkan di hadapan beliau dan para pengikut terbentang lautan. Itu sebuah cobaan bukan?. Kalo dipikir-pikir tanpa memperhitungkan kebesaran dan kekuasaan serta kemampuan Allah, seolah tidak mungkin mereka  akan selamat bukan? Begitu pun juga dengan kita, kita sering banget memvonis diri kita gak mungkin berhasil, gak mungkin ada jalan keluar, gak mungkin bisa , gak mungkin sembuh, gak mungkin ini lah , itulah. Sumpah kata-kata itu nonjok aku banget, karena saat aku baca tulisan itum, aku bener-bener sedang memvonis diriku seperti itu, aku memvonis kalo aku gak mungkin mampu menghadapi hari esok tersebut.Sepertinya kita terlalu fokus melihat kesulitannya, sehingga kita sesah napas kalo terus-terusan liat sulitnya, karena semakin dioprek kesulitan tersebut , pasti akan merembet ke kesulitan-kesulitan yang lain dan hal tersebut lah yang akan membuat kita makin memvonis diri kita gak mampu melewatinya.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Bercermin lagi dengan kasus nabi Musa, Nabi Musa dengan keadaan tersebut beliau memuji Allah, berterimakasih kepada Allah karena sejauh ini sudah menyelamatkan beliau dan pengikutnya. Jika memang langkah harus terhenti, maka itulah keadaan yang harus disyukuri, diberikan waktu untuk memuji-Nya, bertasbih, menyembah Allah. Beliau berdoa dengan doa :

Allaahumma lakal hamdu. “Ya Allah, segala puji bagi Mu.”

Ini adalah kalimat pembuka , yang membuka jalan bagi the winner. Begitu nabi Musa membaca doa tersebut, lautan yang begit terbelah, tampak pegunungan, perbukitan, yang berkelok-kelok, indah , namun kering penuh keajaiban dan pesona. Masya Allah , maha besar Allah, Allah menunjukkan kuasa Nya, memberikan jalanan bagi nabi Musa dan pengikutnya. Intinya Ketika mendapatkan suatu cobaan maka hal yang pertama yang harus dilakukan sebagai the winner adalah jangan terlalu fokus pada kesulitannya tapi, bersyukurlah terlebih dahulu liat sisi positif yang selama ini sudah di dapatkan karena dibalik cobaan itu pasti ada hal luarbiasa dahsyat yang disiapkan Allah. Seperti studi kasus pada tulisan ustadz Yusuf berikut ini :

Seseorang yang sudah siap menikahkan anaknya, gedunga , makanan dari katering ternama, ratusan undangan sudah siap di majelis akad nikah plus ribuan undangan yang akan segera datang memberikan selamat karena anaknya dipersunting lelaki pujaannya. Anaknya sudah menunggu dinkamar rias, sudah lengkap dengan pakaian adat untuk akad. Tapi , datanglah kabar “pengantin lelaki batal hadir”. Langsung pingsan lah calon pengantin wanita begitu pula ayah dan ibunya. Ternyata calon pengantin pria tidak bisa hadir karena ditangkap polisi, wah rupanya ada kasus dari si calon pria yang tidak diketahui keluarga si wanita. Jika aura the loser yang menyelimuti pasti akan panik , kalang kabut, ngamuk-ngamuk saling menyalahkan, menghancurkan segala yang sudah siap bahkan mungkin bisa gila. Tapi jika kita lihat sisi positifnya dengan aura the winner, Allah berbaik hati menunjukkan hal tersebut sebelum mereka  menikah, coba kalau sudah menikah, bisa saja si wanita ikut terserat kedalam kasus calon pengantin pria , dsb. Tapi pasti akan jarang sekali sih yang akan menyikapi hal ini dengan the winner pada seluruh orang. Tuan rumah the winner, calon pengantin the winner, panitia the winner, ayah ibu the winner, tamu the winner.

Jarang tuh ada seorang ayah yang bisa mengambil alih musibah hingga menjadi sesuatu yang menyenangkan. Jarang pengantin perempuan, dengan riasan pengantin, dan baju pengantinnya mengucapkan terimakasih. “Makasih ya.. udah datang. Gak apa-apa Allah tahu yang terbaik. Daripada nanti saya keburu hamil, keburu tahu siapa suami sebenernya, ya mending sekarang. Oke kita happy-happy saling silaturahmi mengucap syukur”, Jarang sekali sih pasti. (aku juga gatau bisa apa gak, ah gabisa bayangin). Tamu-tamu pun kebanyakan ikut mengalirkan energi negatif, saling berbisik saling kasian kepada tuan rumah jarang tamu yang kemuadian membenarkan aura the winner. “Iya juga, udah pada siap kok, mending senang-senang aja”. Jika ini terjadi, keajaiban mungkin akan terjadi.

Dari balik deretan tamu, ternyata ada seorang pemuda lengkap dengan ayah dan ibunya. Pemuda ini dulu pernah jadi kekasih calon oengantin wanita ketika cinta monyet tapi waktu memisahkan mereka atas izin Allah. Pemuda ini belum menikah. Pemuda ini tersenyum melihat calon pengantin keluar, tambah tersenyum saat tahu bahwa calon pengantin pria batal hadir. Ia mendekati calon pengantin perempuan, dan bertanya santun, apakah ia masih mengingat dirinya?

Subhanallah. Allah engatur pertemuan dan kejadian hari itu, bukan pertemuan antara calon pengantin perempuan dengan calon pengantin pria yang batal hadir. Tapi justru antara calon pengantin perempuan dengan pemuda. “Tunggu apa lagi? semua sudah siap, penghulu belum pulang. Orang-orang tua dari lelaki dan perempuan pun ada”. “Tinggal maju duduk di pelaminan saja”. Semua orang juga menyadari kecocokan ini dan akhirnya pernikahan tetap dilangsungkan. Subhanallah.

Membaca studi kasus di atas, aku makin tertonjok dan mendapat ketenangan yang luarbiasa, aku menangis tapi hatiku lebih tentram terlebih ketika melanjutkan bacaan yang dibaca oleh nabi Musa.

Allaahumma lakal hamdu

“Ya Allah, segala puji bagi Mu”

Memilih bersyukur, bukan mengeluh.

Wa-ilaikal Musytakaa

“Kepada Engkau Ya Allah kami mengadu”

Wa Antal Musta’aan

“Dan Engkaulah Yang Maha Penolong”

La hawla walaa quwwata illaa billaah

“Tidak ada kekuatan kecuali Kekuatan-Mu”.

Saat itulah kemudian Allah menurunkan perintah-Nya. Agar Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke batu yang ada dihadapan Nabi. Dan terbelahlah kemudian lautan dan menjadi jalan keluar bagi Nabi Musa.

Baca berulang-ulang doa tersebut hingga Allah menurunkan hikmah-Nya. Saat aku melakukannya, aku mendapatkan ketenangan dan kepercayaan diri, sehingga bisa tidur nyenyak dan fresh saat bangun keesokan harinya. Dan Alhamdulillah hari dimana yang membuat  aku  awalnya ingin menghilang saja, berlalu dengan lancar dan baik. Masya Allah, Allah menunjukkan kuasa- Nya. Dan sampai sekarang pun, doa tersebut menjadi obat manjur :). Inti dari semua ini adalah BERSYUKUR apapun yang terjadi kepada kita. :D. Yuk belajar bersyukur lagi bareng-bareng , sudah bersyukurkah hari ini ?

 

Ketika Hati Berbicara

Kepada hati, bagaimana aku bisa menahanmu? bagaimana aku bisa menahan kamu dari rasa rindu yang selalu muncul disela kesepianku.

Kepada hati, bagaimana aku bisa menjagamu? menjaga agar kamu tetap kuat mengahadapi gejolak akibat pesona warna yang ia pancarkan terus menerus tanpa ampun?

Kepada hati, bagaimana aku bisa membutakanmu dari segala cerita tentang dia? dia yang selalu saja menjadi raja di singgasanamu? bagaimana aku bisa menurunkan rasa keingintahuanmu terhadap segala aktivitas tentang dia sedang dia selalu saja bernyanyi-nyanyi di depanmu?.

Kepada hati, bagaimana aku bisa membohongimu? bagaimana aku bisa bilang dan memaksa kamu untuk hilang sejenak dari segala hal tentang dia? sedangkan kamu telat lekat erat bersama nya

Ahh aku tak kuasa, kenapa egomu selalu menang daripada aku? kenapa kau selalu memaksaku untuk selalu mengkonfirmasi tentang kesehariannya?

Ya allah aku tak sanggup dengan rasa ini ya Allah, tolong angkat mereka bersamamu, aku takut , aku takut tak bisa menjaganya sekarang. Aku belum siap menjaganya sekarang, biarlah hanya Engkau yang tahu. Ku pasrahkan semua rasa itu pada-Mu, biarlah Engkau yang menyampaikan kepada dia.

Kepada hati, aku tau tak akan ada yang bisa menyalahkanmu, kamu tak pernah salah, kamu selalu berkata benar , berkata sesuai dengan apa yang sedang dirasakan. Aku lah, aku yang harus bisa menahan dan menguatkanmu dari semua rasa yang mungkin menyiksa itu, maffkan aku, maafkan aku yang sudah memberikan rasa yang belum siap untuk di urus. Jagalah rasa itu disisimu, biarkan ia bernari karena aku tau, takkan bisa untuk menghilangkan walau badai harus menerpa sekarang juga, mungkin dia akan tetap membersamaimu .

Hati yang tak pernah bisa berdusta, mungkin dengan merawatnya semaksimal mungkin maka keinginan itu akan berhasil (?)

bunga-hati